-DUA KALIMAH SAHADAH-Dimanakah sandarannya? Apakah jawapannya? Bagaimanakah huraiannya?
SILA BACA KOMENT DAN TERBITAN YANG TERDAHULU UNTUK DAPATKAN MAKLUMAT LEBIH LANJUT .

20140303

Pertemuan Waris Pagar Ruyung Raub dengan Raja Alam Pagar Ruyung Sumetara. (4)

Pertemuan bersejarah yang menghimpunkan waris keturunan Raja Alam Pagar Ruyung, Sumatera Barat yang berada di Malaysia dan Indonesia diadakan di Kampung Pintu Padang, Raub, Pahang, Malaysia pada Pada  16 hb. Julai 2003 bersamaan 16 hb Jamadil Awal 1424 Hijrah.

Berikut adalah kata-kata Yang Amat Mulia, Daulat Yang Dipertuan Raja Alam Pagar Ruyung, Dato’ Haji Sultan Muhammad Taufiq Thaib SH., DPTJ ( NS ) Tuanku Muda Mahkota Alam.

Bersyukur kepada Allah SWT atas izin Kudrat dan IradatNya pada hari ini kita hadir bersama-sama di majlis yang berbahagia ini dalam rangka satu pertemuan yang bernuansa “Historys” dan pertemuan yang bernuansa ” Zilaturrahmi” antara keluarga besar Pagaruyung yang masih berada di kampung halaman baik di Pagaruyung, Padang Unang di Luak Lima Puluh dengan zuriatnya yang berada di Raub Pahang ini.

Oleh karena itu, sepatutnya kita tidak henti-hentinya memanjatkan puji syukur yang tidak terbatas ke hadrat Allah SWT, karena “Benang Sutra” yang terputus beratus-ratus tahun lamanya, kini sudah tersambung kembali. Karena Allah SWT, menyayangi orang yang menyambung kembali zilaturrahmi apalagi menyambung zuriat dan Allah sangat memurkai orang yang memutuskan zilaturrahmi apalagi memutuskan sesama zuriatnya.Alhamdulillah kita tidak termasuk golongan yang kedua, tetapi insyaAllah golongan yang pertama.

Berbagai upaya yang dilakukan oleh kakanda Tengku Mustapha telah disampaikan tadi, mulai tahun 1992 sudah datang ke Minangkabau, bahkan sudah sampai ke Padang Unang, tapi dari pihak keturunan nenek datuk kita Tengku Khairul Alam Syah tidak dijumpai keterangan pada waktu itu, dan dari pihak ibu beliau sudah dijumpai keterangannya yaitu di Tanjung Alai.
Tanjung Alai adalah Tengku Muda dalam kedudukannya di Kerajaan Padang Unang, Raja Muda dari Padang Unang adalah mereka bersaudara, satu keturunan, tetapi tidak mungkin di dalam satu kerajaan ada dua raja, adiknya diangkat menjadi Raja Muda di Tanjung Alai. Antara Tanjung Alai dengan Padang Unang itu ibarat dua sisi, dua muka mata wang, tetapi satu.

Sedangkan hubungannya dengan Pagaruyung bilamana pada zaman awal dari berdirinya Kerajaan Pagaruyung pada tahun 1343 Masehi, SRI PADUKA ADITHA WARMAN balik dari Majapahit ke tanah asal Ibundanya di Minangkabau, beliau di sambut oleh Datuk Temenggung BUNGA SETANGKAI SUNGAI TARAB, kemudian di kahwinkan dengan keponakan Datuk Temenggung ini dan di sefakati oleh Aditha Warman di angkat menjadi Daulat Yang Dipertuan Rajo Alam Pagaruyung.

Dahulu Pagaruyung belum bernama Pagaruyung, tetapi masih bernama NAGARI ULAK TANJUNG BUNGO . Hanya empat persukuan pada waktu itu iaitu:
Suku Padang Datar
Suku Mandailing
Suku Nan Sambilan dan
Suku Nan Ampek.

Oleh niniak- mamak yang berempat ini di berikanlah tapak untuk membangun istana di Pagaruyung yang tersebut di dalam “suku” iaitu di Kampung Dalam. Kampung Dalam itu bukan bererti satu lokasi kecil, tetapi Kampung Dalam itu meliputi Tiga Balai, Kampung Dalam artinya “KRATON” atau Istana. Dibangunlah istana pertama di kaki Bukit Batu Patah. Kemudian dipindahkan ke Balairung Serinya atau tempat dia bermusyawarah dan memerintah di Balai Gudam.

Kemudian setelah beberapa waktu memerintah, ada ancaman keamanan dari Utara ( Batak ) maka Yang Dipertuan Aditha Warman ini mengirim salah satu puteranya untuk menjadi Raja di Padang Unang sekarang ini.
Kenapa bernama PADANG UNANG? Pada waktu meneroka tapak istana di Padang Unang sekarang ini, mereka berhenti di suatu hamparan tanah pada malam hari, maka terlihat di cahaya kegelapan banyak binatang Kunang-Kunang yang bersinar, maka oleh karena itu dinamakan “PADANG UNANG”. Maka di situlah putera Aditha Warman, iaitu SRI VIJAYA ANANGGA mendirikan istana dan membuat Kerajaan Padang Unang, untuk menghambat musuh yang datang dari tanah batak.

Kemudian keturunan dari Anangga Warman ini pada akhirnya tidak mempunyai anak yang layak menjadi Raja, mungkin ada anak. Kalau keturunan Raja-Raja dahulu tentu abang Tengku Mustapha dan abang Tengku Kamaruzzaman yang berhak menjadi Raja itu. Walaupun dia anak Raja, tetapi ditenguk dahulu siapa ibunya. Kalau orang dahulu mencari seorang Raja memang ditilik segala hal.

Karena tidak ada yang patut menjadi Raja, kembali di jemput ke Pagaruyung. Maka di kirimlah pada waktu itu seorang Putra Raja yang bergelar Yamtuan Bagindo Soripado, gelar yang sudah di kembalikan kepada abang Tengku Puji.

Kemudian keturunan Yamtuan Bagindo Soripado ini telah beberapa kali keturunan tidak ada pula yang layak menjadi Raja. Yang ketiga kalinya bersama dengan pengiriman Raja Melewar ke Sri Menanti, di kirim lagi seorang Raja ke Padang Unang dari Pagaruyung. Itulah keturunan-keturunan yang ada sekarang ini.

Boleh jadi pada waktu RAJA MELEWAR dikirim ke Sri Menanti, sebelumnya dari Pagaruyung dikirim seorang pembesar Pagaruyung bernama Raja Khatib, untuk mempersiapkan penabalan Raja Melewar menjadi Yang Dipertuan Sri Menanti. Bilamana Raja Khatib sampai di Negeri Sembilan mungkin dia di sambut dan di alu-alukan, sehingga berubah niat di dalam hati yang semula di tugaskan mempersiapkan penabalan Raja Melewar. Kemudian beliau mengaku bahwa beliaulah yang diutus menjadi Yang Dipertuan, sehingga sempat Raja Khatib ini menjadi Raja. Khabar ini di sampaikan ke Pagaruyung, maka segeralah Raja Melewar ke Sri Menanti.

Dan mungkin pada waktu itu diperkirakan kekuatan Raja Melewar tidak cukup, maka di mintalah ke Padang Unang sebagai tambahan pasukan. Sampai pasukan itu di Sri Menanti, berbeda cerita yang saya terima dengan yang di sampaikan Tuanku Padang Unang tadi, TUANKU TENGKU KHAIRUL ALAM itu bukan melarikan diri dari Padang Unang, bahkan dikirim ke Sri Menanti untuk membantu Raja Melewar menghadapi Raja Khatib dengan 40 orang hulubalang. Sesampainya beliau di Sri Menanti, di dapati Raja Khatib terbunuh dan keadaan sudah aman…..

Inilah sedikit sekilas sejarah,……
Kemudian keturunan dari Tengku Khairul Alam ini menetap di Raub. Itu secara garis besarnya, tetapi tentu di dalam sejarah ada pariable-pariablenya yakni bunga rampainya. Kami fikir tidak tahu/ kurang arif maka abang-abang di sinilah yang lebih tahu memahami dan mengetahui sejarah disini.

Jadi artinya hubungan dengan Pagaruyung dengan Raub ini melalui Padang Unang yang datang ke sini adalah cucu-cucu Raja Pagaruyung yang ada di Padang Unang, dari Padang Unang ke Sri Menanti dan dari Sri Menanti ke Raub.

SUMBER:
http://suprizaltanjung.wordpress.com
OLEH
SUPRIZAL TANJUNG

No comments: